Ukhuwah Poto

Dilema Transmigran

Sepi dan sunyi suasana Desa Sungai Rambutan saat saya datangi pada 10 Mei 2018 lalu. Hal ini bisa jadi dikarenakan tanggal merah, sehingga membuat masyarakat sekitar tidak begitu aktif dalam beraktivitas, hanya jalan berbatu yang dihiasi debu pekat yang mengiringi setiap  roda kendaraan yang melintas di kawasan tersebut.

Desa Sungai Rambutan awalnya daerah Inpres Daerah Tertinggal (IDT), tahun 2005 barulah masuk para transmigran. Hingga akhirnya menetap seperti saat ini sebagai petani sawit atau karet. Dari data Desa Sungai Rambutan, tercatat warganya ada 810 KK, 700 KK berasal dari transmigran yang berasal dari Jawa Tengah, Yogytakarta dan Jawa Timur. Terdiri dari UPT 1 dengan catatan 300 KK, UPT 2 yang menaungi 300 KK dan UPT 3 tercatat 100 KK.

Secara geografis, jarak simpang KTM Sungai Rambutan-Parit dari Kota Palembang sejauh 22 KM. Dari simpang itu menuju Desa Sungai Rambutan sejauh 10 KM. Para transmigran, oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan diberikan sepetak rumah berukuran 2×4 meter persegi, yang terbuat dari kayu.Para transmigran juga diberikan lahan seluas seperempat hektar guna perkarangan rumah. Juga diberikan lahan seluas dua hektar untuk membuka usaha.

Namun tak semua UPT mendapat keleluasaan untuk mengolah tanah yang diberikan pemerintah tersebut, seperti yang dialami oleh UPT 2 yang lahannya tumpsng tindih dengan HGU perusahaan sawit PT Indralaya Agro Lestari (IAL). Itulah sebab utama mengapa dari awalnya ada 300 KK hingga kini hanya menyisakan 100 KK dan rumah yang mereka tempati terbengkalai tak berpenghuni.

Diawal mereka datang pun langsung didatangi oleh sejumlah preman yang membawa senjata tajam dan melarang mereka untuk menggarap lahan tersebut cerita salah satu warga. Hingga kini, pasca 20 tahun reformasi, nasib mereka masih belum menentu, sulit rasanya untuk mengolah lahan. Seperti lirik lagu, musim hujan kebanjiran, musim panas kebakaran. Kini, sebagian dari mereka banyak yang menggantungkan hidup sebagai buruh ataupun pegawai kebun kelapa sawit yang mengepung perkampungan mereka.

Mobil melintas di Jembatan darurat poenyebrangan menuju desa Sungai Rambutan (10/5/2018). Mobil melintas di Jembatan darurat poenyebrangan menuju desa Sungai Rambutan (10/5/2018).

Salah satu sisi rumah warga di kawasan UPT 2 kampung Transmigran Sungai Rmabutan, (10/5/2018).

Salah satu sisi rumah warga di kawasan UPT 2 kampung Transmigran Sungai Rmabutan, (10/5/2018).

Pusat bantun kesehatan yang berada di kampung transmigran Desa Sungai Rambutan, (10/5/2018).

Pusat bantun kesehatan yang berada di kampung transmigran Desa Sungai Rambutan, (10/5/2018).

Salah satu buruh penjual pupuk duduk diatas motor pengangukt suplai pupuk ke sejumlah perkebunan sawit di Sungai Rambutan, (10/5/2018).

Salah satu buruh penjual pupuk duduk diatas motor pengangukt suplai pupuk ke sejumlah perkebunan sawit di Sungai Rambutan, (10/5/2018).

Warga di kampung Transmigran melintas dijalan UPT 2.

Warga di kampung Transmigran melintas dijalan UPT 2 kampung Transmigran Sungai Rambutan.

Sejumlah rumah warga transmigran yang terbangkalai setelah ditinggalkan penghuninya.

Sejumlah rumah warga transmigran yang terbangkalai setelah ditinggalkan penghuninya.

Keluarga yang tinggal di kawasan UPT 2 duduk bersantai didepan teras rumahnya.

Keluarga yang tinggal di kawasan UPT 2 duduk bersantai didepan teras rumahnya.

Dua anak kecil bersiap untuk pergi memancing di kawasan UPT 2 Desa Sungai Rambutan.

Dua anak kecil bersiap untuk pergi memancing di kawasan UPT 2 Desa Sungai Rambutan.

Keceriaan salah satu anak kecil yang berada di Desa Sungai Rambutan.

Keceriaan salah satu anak kecil yang berada di Desa Sungai Rambutan.

Foto dan Teks : Nopri Ismi

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Populer

To Top
Kancah Kreativitas Ilmiah