Health

Difteri Ancam Jantung, Ginjal, Hingga Nyawa

Sejumlah petugas vaksin dari Puskesmas Skip melakukan persiapan sebelum memberikan vaksin kepada mahasiswa dan mahasiswi di Univeristas Islam Negeri Raden Fatah Palembang, (24/4/2018). Ukhuwahfoto/Ist.

UIN RF – Ukhuwahnews.com | Penyebab penyakit difteri bisa sangat mematikan, jika pasien terlambat datang untuk berobat, penyakit ini akan menjalar ke ginjal, jantung dan akhirnya terjadi komplikasi. Selain itu, bakteri Corynebacterium diphtheriae dapat dengan cepat menjalar ke seluruh tubuh melalui peredaran darah dan bisa hidup serta berkembang dimana saja.

Hal itu diunkapkan Wakil Dekan III Fakultas Sains dan Tekhnologi, Syarifah S.Si, M.Kes saat di wawancarai di ruangnya usai melaksanakan kegiatan vaksin pada mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Raden Fatah (UIN RF) Palembang, Senin (23/4/2018).

Syarifah juga menerangkan, salah satu gejala difteri adalah batuk  disertai demam, berbeda dengan batuk biasa. “Jadi kalau batuk ini mengelurkan percikan air ludah (droplet), dapat menularkan apabila terkena tubuh orang lain. Selain itu ada juga ciri lain seperti munculnya selaput di daerah amandel,” tuturnya.

Disamping itu, Dr. Hj. Delia Yusfarani, M. Kes menegaskan, difteri merupakan penyakit yang menyerang imun tubuh dan bisa menyebabkan kematian. “Penyakit difteri meningkat pada tahun 2017 dan 2018 termasuk di Kota Palembang dan Ogan Komering Ilir (OKI) dimana ada satu kasus yang positif terjangkit dari 14 terduga difteri dengan melalui pengecekan gejala klinis dan hasil labotarium,” tuturnya.

Sementara, terkait bakteri tersebut, Hj. Robiatul S. Kep, M.Kes mengatakan, hal yang  paling mengerikan adalah ketika seseorang terinfeksi difteri namun tidak ada reaksi dalam tubuhnya mengenai  gejala penyakit difteri. “Hal ini dikarenakan tubuhnya kebal terhadap kuman sehingga tanpa disadari melakukan interaksi yang dapat menularkan kepada orang lain,” bebernya.

Robiatul juga menerangkan, penyebab lain mewabahnya penyakit difteri dikarenakan kurangnya kesadaran orangtua untuk melakukan imunisasi terhadap anaknya saat usia dini, “Kalau dahulu anak-anak kecil usia dibawah 1 tahun, ibunya biasa membawa ke posyandu dan mendapatkan imunisasi difteri, efeknya beberapa puluh tahun terakhir tidak ada lagi kasus difteri, tetapi sekarang muncul dengan tiba-tiba,” jelasnya.

“Nah berarti, difteri muncul akibat menurunnya tingkat kesadaran untuk imunisasi,” pungkasnya.

 

Reporter : Melati Putri Arsika, Indra Sucipta.

Editor : Alfiansyah

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Populer

To Top
Kancah Kreativitas Ilmiah