Gallery

DIALOG INTERAKTIF LGBT DALAM PRESPEKTIF AGAMA DAN SOSIAL

 

Pemberian Materi mengenai LGBT pada acara yang diadakan oleh Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) cabang Kota Palembang, Dialog Interaktif dengan tema LGBT ditinjau dari aspek agama dan sosial di ruang Munaqosyah Fakultas Syari’ah Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang, Kamis (28/4). Ukhuwahnews/Lusi Harianti

Pemberian Materi mengenai LGBT pada acara yang diadakan oleh Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) cabang Kota Palembang, Dialog Interaktif dengan tema LGBT ditinjau dari aspek agama dan sosial di ruang Munaqosyah Fakultas Syari’ah Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang, Kamis (28/4). Ukhuwahnews/Lusi Harianti

 

UIN-Ukhuwahnews.com | LGBT merupakan akronim dari Lesbian Gay Biseksual dan Transgender. LGBT sudah sering menjadi tema diskusi dan pembahasan karena dampaknya di masyarakat, baik dari masyarakat maupun pemerintah. Landasan tersebutlah menjadikan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) cabang Kota Palembang mengadakan Dialog Interaktif dengan tema LGBT ditinjau dari aspek agama dan sosial di ruang Munaqosyah Fakultas Syari’ah Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang, Kamis (28/4).

Dalam dialognya, Pengurus Wilayah Nahdatul Ulama, Amri Siregar mengatakan bahwa LGBT merupakan perilaku kaum Nabi Luth yang keliru, menyimpang dan termasuk ke dalam dosa besar. Menurutnya, Islam juga tidak  memperbolehkan pernihakan antara pelaku LGBT.

“Sebagai pendakwah, harus mengingatkan bahwa perilaku LGBT adalah perbuatan yang keliru. Harus terus disampaikan kepada umat terutama dalam keluarga,” ujar Dia.

Dia menambahkan, apabila terjadi perubahan sikap seseorang yang mengarah ke LGBT, maka harus secepatnya diarahkan dan dibentuk kembali agar sikapnya tidak menyimpang. Langkah pertamanya perlu diterapkan pendekatan agama dan memperbaiki pola asuh anak.

“Dalam Islam, diperbolehkannya hubungan antara laki-laki dan perempuan adalah sunnatullah dan untuk menghasilkan keturunan. Dan keturunan yang lahir hanya dari pasangan laki-laki dan perempuan bukan dari pasangan sejenis,” tuturnya.

Senada, Ketua Komisi Kateketi, Litursi dan Kitab Suci Keuskupan Agung Palembang, Vinsensius Setiawan Triatmojo menyatakan, membahas LGBT dilihat dari dua hal yakni orientasi seksual dan aktualisasi atau praktik dari orientasi yang menyimpang. Menurutnya, gereja menolak dengan tegas aktualisasi dari orientasi seksual yang menyimpang dan tidak ada legalitas dari gereja sampai saat ini.

“Kalau orientasi seksual yang menyimpang artinya ini adalah sebuah penyakit dan harus disembuhkan. Penyebab penyimpangan orientasi seksual yang menyimpang bisa disebabkan faktor biologis dan juga pengaruh lingkungan, hal ini membutuhkan penyembuhan. Salah satu upayanya ialah memberi perhatian bagi pelaku LGBT, menghimbau keluarga agar tidak menyembunyikan pelaku LGBT dan memberikan pendampingan agar tidak menularkan ke masyarakat lainnya,” ujarnya.

Melihat dari segi sosial, Kepala Prodi (Kaprodi) Hukum Tata Negara Program Pasca Sarjana UIN Raden Fatah, Faisol Burlian menjelaskan LGBT adalah perilaku penyimpangan norma di sosial. Sanksi sosial yang akan diterima pelaku dari masyarakat bisa berupa kecaman buruk dan terisolasi dari masyarakat karena dianggap berbahaya.

“Pengaruhnya bagi sosial adalah berupa kepunahan keturunan. Dari segi perkawinan dijelaskan bahwa tujuan perkawinan adalah untuk menghasilkan kepunahan keturunan, sedangkan pasangan LGBT tidak akan pernah menghasilkan keturunan,” ungkapnya.

Menurut Dia, untuk mengatasi hal ini harus kembali ke ajaran agama dan pendidikan. Melalui pendidikan, masyarakat bisa mengetahui dampak yang dihasilkan oleh LGBT baik pendidikan formal maupun nonformal. Pendidikan ini juga bisa disalurkan melalui media.

“Media juga bisa dijadikan sarana edukasi, memang media tidak boleh untuk mngkampanyekan bahwa LGBT dilarang. Namun, jika pendidik, mahasiswa, maupun masyarakat menulis artikel tentang dampak LGBT, bisa jadi pendidikan yang baik bagi masyarakat,” pungkasnya.

Ketua I Kaderisasi PMII Cabang Kota Palembang, Pandi Reynaldi menuturkan mahasiswa harus lebih mempelajari LGBT dan dampaknya. Untuk mengatasi permasalahan ini diperlukan langkah persuasif dalam mengajak masyarakat dan diharapkan pemerintah maupun pengambil kebijakan terkait harus mengambil langkah secepatnya.

Di sisi lain, sekretaris Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) Sumatera Selatan, I Kadek Andre Nuaba mengatakan hal-hal yang negatif pasti dilarang oleh agama. Orientasi seksual yang menyimpang dari LGBT menurut Dia bisa menimbulkan kekerasan terhadap orang lain seperti sodomi dan predator-predator anak.

“Untuk masalah penuntutan hak dan pelegalan menikah sejenis tidak harus dipenuhi. Agama tidak memperbolehkan hal ini, karena peraturan-peraturan yang ada di negara ini juga berasal dari agama-agama yang ada di Indonesia. Mengatasi hal ini diperlukan kerja sama antara pemerintah dan masyarakat agar pelaku LGBT ini bisa sembih dari penyakit orientasi yang menyimpang,” tutupnya.

 

Reporter : Lhl

Editor : Von

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Populer

To Top
Kancah Kreativitas Ilmiah