Artikel

Di Tengah Status Kritis Gajah Sumatera

Ilustrasi. Sumber : Blog UAJY

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki kekayaan fauna terbesar di dunia. Salah satu faktor yang menyebabkan tingginya keanekaragaman fauna adalah luasnya wilayah tropis Indonesia. Ada banyak jenis fauna langka di Indonesia, salah satunya Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) yang habitatnya berada di wilayah Sumatera.

Dari data WWF (World Wildlife Fund for Nature) Saat ini kondisi populasinya semakin menurun seiring dengan tingginya aktifitas penggundulan hutan Sumatera. Gajah Sumatera saat ini berada dalam status Kritis (Critically Endangered) dalam daftar merah spesies terancam punah yang dikeluarkan oleh Lembaga Konservasi Dunia, IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources).

Di Indonesia, Gajah Sumatera juga termasuk dalam satwa dilindungi menurut Undang-Undang No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan diatur dalam peraturan pemerintah, yaitu PP 7/1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Masuknya Gajah Sumatera dalam daftar tersebut disebabkan oleh aktivitas pembalakan liar, penyusutan dan fragmentasi habitat, serta pembunuhan akibat konflik dan perburuan. Perburuan biasanya hanya diambil gadingnya saja, sedangkan sisa tubuhnya dibiarkan membusuk di lokasi.

Populasi gajah Sumatera kian hari makin memprihatinkan, dalam 25 tahun terakhir, Gajah Sumatera telah kehilangan sekitar 70% habitatnya, serta populasinya menyusut hingga lebih dari separuh. Estimasi populasi tahun 2007 adalah antara 2400-2800 individu, namun kini diperkirakan telah menurun jauh dari angka tersebut karena habitatnya terus menyusut dan pembunuhan yang terus terjadi.

Pertumbuhan populasi manusia yang terus meningkat dan proses industrialisasi untuk memenuhi segala kebutuhan manusia menyebabkan upaya pelestarian lingkungan tempat tinggal fauna terabaikan. Akibatnya keanekaragaman hayati terancam, sehingga berpengaruh terhadap kelangsungan hidup dan perkembang-biakan fauna.

Salah satu kasus yang dilansir dari okezone.com, akibat habitat alamnya makin terusik dan kecukupan makanannya berkurang membuat tujuh gajah mengamuk di sekitar permukiman warga. Sehingga beberapa pondok dan perkebunan warga di Desa Sepintun, Kecamatan Pauh, Kabupaten Sarolangun, Jambi, menjadi sasaran amukan gajah-gajah tersebut.

Kawanan gajah merusak tanaman warga seperti kelapa sawit dan pisang. Masyarakat pun berharap dinas terkait segera mengambil tindakan agar tidak menimbulkan kerugian.

Para ahli menyatakan bahwa ketidakpedulian manusia akan alam merupakan penyebab utama kepunahan satwa. Jika hal ini terus menerus dilakukan, bisa saja dalam beberapa tahun ke depan kita menjadi saksi atas kepunahan Gajah Sumatera.

Ketidakpedulian ini disebabkan karena minimnya pengetahuan terhadap pentingnya melakukan konservasi terhadap satwa yang dilindungi baik dikalangan masyarakat ataupun mahasiswa. Bicara tentang satwa langka yang dilindungi, berarti berbicara tentang kekayaan hayati. Mahasiswa belum sadar memiliki kekayaan hayati yang luar biasa sehingga tidak tahu cara mengelolanya.

Dalam hal ini Lembaga Pers Mahasiswa dalam lingkup kampus memiliki fungsi sebagai media komunikasi dan edukasi yang harus gencar menyampaikan informasi ke mahasiswa lainnya dan juga khalayak mengenai kondisi satwa langka yang dilindungi, dan mengabarkan alasan satwa langka bisa mengganggu  manusia dengan datang ke pemukiman warga.

Upaya yang bisa dilakukan oleh Pers Mahasiswa dalam penyelamatan dan perlindungan satwa langka ialah dengan cara membuat tulisan ataupun menyajikan berita tentang perlindungan satwa langka di majalah dan website pers mahasiswa itu sendiri.

Tulisan yang dimuat harus memberikan edukasi tentang data satwa dan habitat satwa yang dilindungi, agar khalayak menyadari pentingnya kelestarian satwa langka untuk tetap hidup di habitatnya. Sehingga, mereka tidak lagi mengusik keberadaannya dan menjaga satwa langka tersebut untuk tetap hidup di habitat aslinya.

Pers Mahasiswa juga harus mendukung setiap aktivitas pelestarian satwa langka yang dilakukan oleh lembaga pelestarian lingkungan. Caranya dengan membantu memberitakan setiap kegiatan yang berkaitan dengan perlindungan dan penyelamatan satwa langka.

Pers Mahasiswa merupakan agent of change yang harus antisipatif terhadap pergerakan informasi yang bergulir kian cepat, terutama dalam isu lingkungan. Maka, Pers Mahasiswa harus menjadi garda terdepan dalam menyajikan informasi terkait pelestarian keanekaragaman hayati agar kelestariannya tetap terja.

 

Penulis : Syarifah Adawiyah

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Populer

To Top
Kancah Kreativitas Ilmiah