Apa yang Salah dengan Pustakawan ?

Ilustrasi by Jaiwan.

Oleh Dewi Permatasari (Mahasiswa Program Studi Ilmu Perpustakaan Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang)

 

Perpustakaan diartikan sebagai sebuah ruangan atau gedung yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan yang biasanya disimpan menurut tata susunan tertentu yang digunakan pembaca dan bukan untuk di jual ( Sulistyo, Basuki ; 1991 ), dapat disimpulkan bahwa perpustakaan adalah institusi yang mengumpulkan pengetahuan tercetak maupun terekam, mengelola dengan cara khusus demi memenuhi kebutuhan intelektual para pengguna perpustakaan melalui beragam cara pengelolaannya.

Waktu di bangku sekolah dasar pasti kalian tidak asing lagi dengan pertanyaan “ kalau kalian besar nanti cita–citanya apa? ” sebagian dari kalian pasti menjawab ingin menjadi dokter, polisi, guru, dan pekerjaan yang hebat lainnya. Pertanyaan saya sekarang mengapa mereka tidak menjawab ingin menjadi pustakawan? Realitasnya secara tidak langsung adalah sebuah cambukkan  bagi dunia kepustakaan, karena dengan rendahnya minat  seseorang  untuk  menjadi pustakawan adalah suatu bukti bahwa pekerjaan pustakawan masih dipandang sebelah mata oleh sebagian orang dan lebih parahnya bagi beberapa orang menganggap pustakawan bukan merupakan sebuah profesi. Padahal secara jelasnya  telah  disebutkan pada Undang–Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 bahwa pustakawan adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan atau pelatihan kepustakaan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengolahan dan pelayanan perpustakaan.

Sekarang masyarakat Indonesia sedikit banyak telah mengenal atau mengetahui perpustakaan dan pustakawan  melalui  media massa dan sekolah–sekolah perpustakaan telah banyak didirikan serta untuk peningkatan perpustakaan telah banyak diselenggarakan. Kita sebagai pustakawan boleh sedikit bangga karena selama ini profesi pustakawan dianggap sebelah  mata bagi  sebagian orang dan sekarang profesi pustakawan sudah mulai dikenal dan diperhatikan. Menjadi seorang pustakawan  jika dilihat dari segi pengabdian ke masyarakat  sebenarnya  tidak  jauh berbeda dengan profesi guru, polisi, dan dokter.

Dalam dunia pendidikan  tidak  dapat dipisahkan dari yang namanya  buku bahkan ada pepatah mengatakan bahwa buku adalah jendela dunia atau baca buku buka dunia.  Pertanyaan saya bagaimana kita mendapatkan sebuah buku secara lengkap? Jawabannya hanya dua yaitu dengan membeli dan meminjam, mungkin bagi mereka yang berkantong tebal membeli buku merupakan sesuatu yang mudah namun bagaimana bagi kita yang termasuk golongan menengah ke bawah untuk membeli sebuah buku saja mungkin hanya mimpi, maka meminjamlah merupakan salah satu jalan terbaiknya.

Berhubungan dengan meminjam buku mungkin tidak asing lagi dengan yang namanya perpustakaan, di perpustakaanlah biasanya tersedia berbagai macam jenis buku yang  terletak secara terstruktur sesuai subjek di rak–rak yang tersedia berdasarkan kelasnya.  Apakah buku – buku tersebut bisa tertata dengan rapi di rak–raknya sesuai dengan  subjeknya  jika tidak ada yang mengelola perpustakaan tersebut? Tentu tidak, karena dibalik  semua itu ada pustakawan-pustakawan  yang senantiasa mengelola, merawat, hingga  menjaga  jajaran buku agar tetap tertata dengan rapi apabila ada pengunjung perpustakaan yang menginginkan buku tersebut sudah tersedia di raknya. Jika di perpustakaan tidak ada pustakawan bagaimanakah cara kita mencari buku di antara ribuan tumpukan buku yang tersedia.

Selain dari segi  pengabdian,  profesi pustakawan juga bisa sejajar dengan guru, dosen, dan sebagainya dan apa bila dilihat dari segi pendapatan karena akhir – akhir ini sedang gencar UU tentang  sertifikasi  pustakawan dengan UU ini pustakawan tidak perlu lagi “was-was” soal gaji. Dari segi peluang pun profesi pustakawan bisa dikatakan lebih menjanjikan karena seperti yang kita ketahui masih banyak instansi perpustakaan yang membutuhkan pustakawan, semua itu masih bertolak belakang dengan sedikitnya calon pustakawan sehingga bisa dipastikan bahwa menjadi  pustakawan  peluangnya cukup besar jika dibandingkan dengan profesi lainnya. Dan  sekarang tidak ada lagi alasan apakah salah profesi pustakawan.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *